17/01/2021
Breaking News

Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

32 - Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

 Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang – Bagaikan menyusun sebuah puzzle, setiap potongan petunjuk dikumpulkan hingga membentuk sebuah gambar utuh yang mampu bercerita. Itulah yang dilakukan sekumpulan orang yang tergabung dalam komunitas bernama “Rumah Tua”. Apa yang dilakukan mereka ini terbilang cukup unik. Ya, napak tilas, berusaha menggali kemudian menguak cerita sejarah di balik bangunan-bangunan tua peninggalan masa kolonial.

Sebagian besar bangunan saat ini, seperti bekas rel jalur kereta api, stasiun, dan pabrik gula, sudah lapuk dan rusak dimakan usia, bahkan tak sedikit yang hilang tanpa jejak. Kota Malang memiliki banyak bangunan ikonik yang sudah berdiri sejak lama. Bangunan-bangunan tersebut tak bisa dilepaskan dari tonggak awal berdirinya Kota Malang sekitar tahun 1914. Sebelum resmi menjadi sebuah kota, Malang merupakan bagian dari karesidenan Pasuruan.

Namun setelah perkembangan perekonomian di wilayah tersebut mulai meningkat, maka Malang resmi berdiri menjadi sebuah kota. Setelah itu, Malang semakin berkembang hingga menjadi kota terbesar kedua di Jawa Timur (Jatim) seperti sekarang. Meskipun begitu, beberapa bangunan lawas tetap menjadi landmark. Ada yang berubah drastis, tapi ada juga agen idn poker indonesia yang terjaga orisinalitasnya. Yuk, simak deretan potretnya berikut ini.

1. Stasiun Kota Baru Malang

20201030 103747 min 7338823cb198a5d24916cf207dae18d3 - Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

Stasiun Kota Baru Malang mulai dibangun pada masa kolonial Belanda atau sekitar tahun 1940. Dalam proses pengoperasian awal, Stasiun Kota Baru dibuat menghadap ke sebelah timur rel. Hal itu lantaran pada bahian depan stasiun terdapat tangsi militer. Kendati demikian, seiring perkembangan zaman, wajah stasiun kemudian dipindah menuju sisi sebelah barat hingga kini.

Pada saat itu stasiun kereta api merupakan elemen penting dalam sebuah tata kota. Maka dari itu, Stasiun Kota Baru dibangun di tengah kota. Tak banyak yang tahu bahwa struktur bangunan Stasiun Kota Baru memiliki konsep ganda. Selain sebagai tempat untuk pemberhentian kereta, bangunan tersebut didesain sebagai tempat pertahanan. Hal itu terlihat dari bangunan terowongan yang menghubungkan satu peron dengan peron lainnya.

“Struktur bangunan yang demikian tersebut memang untuk antisipasi serangan udara saat Perang Dunia II dulu,” papar pegiat sejarah Jelajah Jejak Malang, Restu Respati kepada IDN Times, Jumat (30/10/2020).

2. Balai Kota Malang

20201030 104959 min ed922d2dab1ec1c8dcf408b15a387b76 - Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

Berikutnya ada Balai Kota Malang yang juga sarat sejarah. Bangunan tersebut mulai di bangun pada tahun 1927-1929. Pembangunan tersebut di gagas oleh wali kota yang saat itu di jabat H.I. Bussemaker. Pada 1926 dirinya mengadakan sayembara untuk membuat desain kantor wali kota. Lokasinya di tentukan yakni di sisi selatan Jan Pieterszoon Coenplein (Lapangan JP. Coen) atau yang kini lebih di kenal sebagai alun-alun bunder.

Berdasarkan catatan, ada 22 desain yang masuk. Awalnya tidak ada desain yang memenuhi ekspektasi dari penyelenggara saat itu. Kemudian setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya di ambil tiga terbaik. Namun, penyelenggara tidak memberikan juara pertama, hanya memberikan terbaik kedua dan ketiga saja.

Selanjutnya, dua desain terbaik tersebut kembali di seleksi oleh dewan perwakilan (Gementeraad). Setelah melalui berbagai tahap, akhirnya di pilihlah rancangan milik HF Horn dari Semarang dengan moto “Voor de Burgers van Malang” atau dalam Bahasa Indonesia berarti “Untuk Warga Malang”. Pembangunan di lakukan selama dua tahun dan mulai di gunakan pada November 1929.

“Dulu sebelum memiliki gedung sendiri. Bahkan awanya jabatan wali kota masih di rangkap oleh asisten residen yang kantornya di selatan alun-alun kotak,” imbuh Mochammad Antik yang juga anggota pegiat sejarah Jelajah Jejak Malang.

3. Perempatan Kayutangan

20201030 082552 min f0490456b159471471e71650feb5fe41 - Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

Satu lagi tempat yang cukup memiliki sejarah panjang adalah wilayah Kayutangan Malang. Wilayah tersebut meliputi sepanjang Jalan Basuki Rahmat hingga pertigaan depan kantor PLN Kota Malang. Kawasan tersebut sejak dulu memang merupakan jalur utama yang menghubungkan wilayah Kota Malang menuju daerah luar pada masa kolonial.

Kawasan tersebut merupakan sentra bisnis pada masa lalu. Restu menambahkan, tepat pada perempatan Kayutangan  terdapat satu ikon yang cukup legendaris yakni bangunan kembar. Kedua bangunan kembar tersebut di arsiteki oleh Karel Bos pada tahun 1936 dan di kembangkan oleh Herman Thomas Karsten pada Bouwplan V Kota Malang.

Bangunan kembar tersebut kemudian di kenal sebagai Gedung Rajabally. Begitu terkenalnya nama Rajabally, sampai perempatan di mana lokasi gedung tersebut berdiri di namakan Perempatan Rajabally.

Perempatan Rajabally adalah lokasi yang sangat strategis untuk menjadi pusat bisnis pada masa itu.  Perempatan Rajabally menghubungkan empat tempat yaitu Alun-alun Malang di sisi selatan, Alun-alun Bundar di sisi timur. Idjen Boulevard di sisi barat, dan Pasuruan di sisi utara.  Perempatan Rajabally juga merupakan jalan yang membuka akses ke arah barat sebagai perkembangan kota mandiri yang baru.

“Filosofinya jika di tarik secara garis lurus, akan kelihatan bahwa mulai Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang-Perempatan Rajabally-Idjen Boulevard merupakan satu kesatuan. Bangunan kembar Rajabally seolah merupakan pintu gerbang untuk menuju ke Ijen Boulevard sebagai kota mandiri yang baru. Kedua menara kembar pada bangunan ini seolah merupakan dua tangan yang menyangga pegunungan Putri Tidur yang berada di sebelah barat Kota Malang. Hal ini tentunya sudah di rencanakan secara matang oleh Herman Thomas Karsten,” sambung Restu.

4. Kawasan elite Idjen Boulevard

20201030094905 img 51992 112dde47855becdf044e02b1f53ad9ef - Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

Berikutnya adalah kawasan Idjen Boulevard atau kawasan Jalan Ijen. Kawasan ini tak bisa di lepaskan begitu saja dari masa kolonial Belanda. Pada masa Hindia Belanda, kawasan ini di desain khusus sebagai tempat tinggal bagi para kaum elite Belanda dan orang Eropa lainnya.

Bahkan pada masa itu, kawasan ini di sebut juga sebagai kota mandiri. Sebab, di sekitar kawasan tersebut terdapat fasilitas penunjang aktivitas warga. Seperti keberadaan Gereja Kathedral sebagai tempat ibadah, Pasar Oro-oro Dowo sebagai pusat perdagangan, bangunan sekolah, hingga pacuan kuda yang saat ini sudah tidak ada lagi.

5. Pacuan kuda simpang balapan

20201030094637 img 51952 8606bfad719b296e38fbccc92c39849e - Menilik Bangunan-bangunan Lawas Kota Malang Dulu dan Sekarang

Sebagai bagian dari kompleks Idjen Boulevard, kawasan pacuan kuda memang menjadi bagian dari sarana hiburan. Utamanya bagi kaum elite Eropa. Namun, saat ini keberadaan pacuan kuda tersebut sudah tidak berbekas. Menurut Antik, pacuan kuda Jalan Ijen hancur saat masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1942.

Namun, saat itu Jepang mengalihkan fungsi wilayah pacuan kuda menjadi sebuah kuil Shinto. Tetapi lagi-lagi jejak sejarah tersebut hilang dan kini kawasan pacuan kuda simpang balapan tersebut di perkirakan telah menjadi bangunan Poltekes Kemenkes Malang dan beberapa bangunan pertokoan lainnya.