01/10/2020
Breaking News

7 Adat Istiadat Sumatera Utara

7 Adat Istiadat Sumatera Utara

7 Adat Istiadat Sumatera Utara

7 Adat Istiadat Sumatera Utara – Sumatera Utara (Sumut) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian utara Pulau Sumatra. Provinsi ini beribu kota di Medan. Sumatra Utara adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Ada banyak adat istiadat Sumut yang harus mendapat perhatian oleh kita semua. Eksistensinya tidak semua bisa dipertahankan sampai kepada anak cucu. Ancaman budaya global sangat strategis menghilangkan kepercayaan diri anak bangsa untuk cinta kepada budayanya sendiri. Bahkan tidak sedikit dari remaja Indonesia yang latah meniru budaya dari luar negeri.

Baiklah, tanpa lama-lama waktu lagi, langsung saja Anda baca apa saja adat istiadat yang ada di provinsi Sumatera Utara. Berikut informasinya.

Manortor Dan Margondang

Manortor merupakan melakukan tarian seremonial yang disajikan dengan musik Gondang. Tortor adalah seni tari Batak Sumut pada zaman dahulu merupakan sarana utama dalam melakukan ritual keagamaan yang masih bernafaskan mistik (kesurupan), tapi saat ini Manortor kerap dijumpai pada acara pesta-pesta adat orang Batak dengan membunyikan alat musik tradisional Gondang Sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap) yang pada zaman dahulu erat dengan pemujaan kepada Dewa-Dewa atau roh-roh nenek moyang.

Partuturan

Di kehidupan sehari-hari warga suku Batak, Partuturan ialah kunci dari falsafah hidupnya dengan menanyakan marga dari setiap orang Batak yang ditemuinya. Hal ini dapat digambarkan dengan ukiran 2 ekor cicak yang saling berhadapan yang menempel di kiri-kanan Rumah Batak. Kekerabatan ini pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah dan menentukan sikap terhadap orang lain dengan baik.

Umpasa

Ialah merupakan aktivitas kata-kata yang diucapkan seperti menyerupai pantun yang dalam bahasa Batak mempunyai makna. Sebab begitu penting, maka Umpasa diucapkan untuk menyampaikan keinginan/harapan dalam setiap acara adat yang dilaksanakan. Apabila Umpasa yang disebutkan juga menjadi harapan dari para hadirin, maka secara serentak akan mengatakan “ima tutu” yang artinya “semoga demikian”.

Dalihan Natolu

Arti “Dalihan” ialah sebuah tungku yang terbuat dari batu. Jadi Dalihan Natolu bisa dideskripsikan sebagai tungku tempat memasak yang diletakkan di atas 3 (tiga) batu. Supaya tungku tersebut dapat berdiri dengan baik, maka ketiga batu sebagai penopang haruslah berjarak seimbang satu sama lain dan tingginya juga harus sama. Ini adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Mangulosi

Kegiatan Mangulosi artinya memberikan ulos sebagai lambang kehangatan dan berkat bagi mereka yang menerimanya. Ketika Mangulosi ada aturan yang harus dituruti yakni: hanya orang yang dituakan yang dapat memberikan ulos. Misalnya : orang tua mangulosi anaknya, tetapi seorang anak tidak bisa mangulosi orangtuanya.

Mangulosi sering kita temukan pada saat-saat pesta antara lain :

  • Ketika anak lahir , bayi akan menerima “Ulos Parompa”
  • Pada saat anak laki-laki melaksanakan pesta pernikahan, dia akan menerima “Ulos Hela” dari mertuanya.
  • Pada saatnya meninggal dunia, akan menerima “Ulos Saput”.

Mengalahat Horbo

Mangalahat Horbo ialah upacara adat di Sumut bagi orang Batak sebagai pertanda penyucian diri atau menebus dosa-dosa , sehingga akan didapat kemakmuran dalam kehidupannya. Acara Mangalahat Horbo ini dilatar belakangi kepercayaan suku Batak kepada Debata Mula Jadi Nabolon (Sang pencipta alam semesta) yang mampu menghapus dosa dan memberi kemakmuran dengan mengurbankan seekor kerbau jantan yang diikatkan pada borotan (sebuah tiang di tengah upacara yang dihias berbagai jenis daun-daun pilihan).

Mangongkal Holi

Adat isiadat Mangongkal Holi terkait dengan kematian bagi suku Batak. Kebiasaan ini merupakan suatu prosesi upacara yang dilakukan untuk mengumpulkan tulang belulang dari jasad orang tua yang dimasukkan ke peti yang baru untuk dipindahkan pada suatu tempat yang telah disediakan oleh pihak keluarga.

Tujuan tradisi yang sudah turum temurun ini memberikan penghormatan kepada roh orang tua yang telah tiada. Pemindahan lokasi tulang belulang dimaksud ke tempat yang baru adalah untuk mendapatkan tempat yang lebih baik dari tempat sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *