26/10/2020
Breaking News

Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

100 Tahun Gedung Sate, Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara

Arsitektur Belanda yang Kental Budaya Nusantara – Indonesia memiliki sejarah panjang dengan Belanda. Selama kurang lebih 3 abad dijajah oleh Belanda, membuat pengaruh yang cukup banyak terhadap tampilan beberapa gaya arsitektur gedung wilayah di Indonesia, salah satunya kota Surabaya.

Sejak Pemerintah Hindia Belanda memindahkan ibu kota Jawa Barat dari Karapyak (kini terletak di Kabupaten Bandung) menuju pusat Kota Bandung, pembangunan dilakukan sangat masif demi menciptakan lanskap ibu kota yang hakiki.

Salah satu bangunan termegah yang diwacanakan untuk dibangun sebagai sebuah simbol ialah Gedung Sate, yang hingga kini menjadi simbol kedigdayaan Kota Bandung sebagai salah satu daerah terpenting di Indonesia.

Pada tahun1808, Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Herman Willem Deandels, merupakan salah satu sosok yang meresmikan pergeseran ibu kota Jawa Barat itu. Alasannya karena ia melihat banyaknya potensi, baik alam mau pun sosial, yang dimiliki oleh Kota Bandung agar menjadi daerah yang dapat dibangun secara matang. Keputusan itulah yang membuat Kota Bandung kini dipenuhi banyak wujud arsitektur peninggalan Belanda.

Di antara berbagai arsitektur yang dibangun, Gedung Sate, atau dulu disebut Gouvernements Bedrijven, menjadi salah satu yang termegah. Tak hanya pembangunannya yang melibatkan 2.000 pekerja dan 150 pemahat. Pembangunan Gedung Sate juga merupakan penerapan ilmu dua arsitek muda lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, De Roo dan G. Hendriks.

Pembangunan gedung ikonik itu sendiri dimulai pada 27 Juli 1920, atau jatuh tepat hari ini satu abad lalu. Pembangunan dilakukan selama kurang lebih empat tahun, hingga rampung pada September 1924.

Gedung Sate secara resmi tercatat terletak di Jalan Diponegoro No. 22 Kota Bandung, Jawa Barat. Gedung ini berdiri di atas lahan seluas 27.990,859 meter persegi, dengan luas bangunan sekitar 10.877,734 meter persegi.

100 tahun berlalu, 14 nama telah menjadi Gubernur Jawa Barat yang berkantor di sana bersama para amtenarnya. Termasuk yang kini menduduki jabatan itu yakni mantan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Rupa Bandung setelah Gedung Sate berdiri

Arsitektur tak melupakan nilai-nilai Nusantara

residencedaercole.com Gedung Sate yang masih berdiri saat ini meski usianya sudah seabad. Di sana, tepatnya pada bagian tengah, terdapat suatu ornamen yang menyerupai bentuk candi yang berundak, kontras, dan menarik perhatian.

Arsitektur Hindu-Buddha macam ini masih bisa kita jumpai pada gerbang masuk bangunan-bangunan lama di Jawa dan Bali, seperti kompleks keraton, makam keramat, serta pura, dan puri.

Arah menghadap Gedung Sate juga nyatanya menjadi salah satu hal yang amat dipertimbangkan para arsitek. Jika Gedung Pakuan (kini rumah dinas Gubernur Jawa Barat) menghadap ke Gunung Malabar di selatan Bandung, Gedung Sate justru menghadap ke arah Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di utara Bandung.

Keputusan para arsitek ini merupakan bukti bahwa Gedung Sate tidak hanya didesain dan dibangun atas egoisme Pemerintah Hindia Belanda, melainkan juga dengan mempertimbangkan lingkungan sekitarnya.