11/08/2020
Breaking News

Bangunan Peninggalan Belanda

Bangunan Peninggalan Belanda

Bangunan Peninggalan Belanda

Bangunan Peninggalan Belanda – Dijajah Belanda dalam kurun waktu yang lama ternyata tidak hanya membuat rakyat Indonesia menderita berkepanjangan.

Efek lainnya Indonesia memiliki banyak peninggalan dari zaman kolonial Belanda.

Salah satunya adalah bangunan bersejarah yang juga turut menjadi saksi bisu penderitaan rakyat Indonesia dan menjadi saksi bagaimana pemerintahan berpindah tangan melalui segenap perjuangan. http://onlinesbobet.club/

Setelah lama meninggalkan Indonesia, bangunan yang turut menjadi tonggak sejarah masih tetap kokoh berdiri menatap dan menjadi bagian keseharian rakyat Indonesia.

Bahkan bangunan-bangunan ini tidak kalah gagah dengan bangunan yang lebih modern.

Mereka bisa bersaing dengan kemegahan ala arsitektur Eropa yang dimilikinya, meskipun ada yang sudah didirikan lebih dari seratus tahun yang lalu.

Memang benar, rakyat sangat tersiksa akibat Belanda yang menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Bukan saja karena kebebasan mereka yang terkungkung di bawah bayang-bayang tekanan Belanda, namun tenaga mereka juga kerap diperas untuk mendirikan bangunan-bangunan megah Belanda.

Setelah meninggalkan bumi nusantara, bangunan-bangunan Belanda tersebut seolah menjadi saksi bisu bagaimana kedigdayaan Belanda berhasil menindas rakyat Indonesia. Di zaman sekarang, bengunan-bangunan tersebut ada yang sudah rubuh termakan usia. Namun tak sedikit pula yang masih bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Lawang Sewu – Semarang

Lawang Sewu memberikan kesan paling megah jika dibandingkan bangunan peninggalan Belanda lainnya. Berdiri kokoh di Bundaran Tugu Muda, Semarang, Lawang Sewu dibangun tahun 1904 dan digunakan untuk kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.

Dulunya bangunan yang memiliki seribu pintu tersebut terkenal angker dan menjadi destinasi wisata mistis yang paling terkenal. Seiring pemugaran yang dilakukan Pemerintah Semarang secara besar-besaran, Lawang Sewu seakan telah menanggalkan kesan mistisnya dan berubah menjadi objek wisata yang mengagumkan dan wajb dikunjungi di Semarang.

Gereja Katedral – Jakarta

Gereja yang memiliki nama resmi Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga merupakan sebuah gereja katolik yang diresmikan tahun 1901 oleh Pemerintah Belanda. Untuk membuat kemegahan bangunan Gereja Katedral, ditunjuklah seorang arsitek ulung Belanda yang bernama Marius Hulswit.

Gereja yang berdekatan dengan Masjid Istiqlal ini dibangun dengan gaya arsitektur neo-gotik khas bangunan gereja di Eropa. Awalnya bagian menara gereja akan dibuat bentuk kubah oleh Marius Hulswit. Namun karena faktor geografis Indonesia yang sering dilanda gempa, kubah itu diganti dengan bentuk menara dari logam. Kini bangunan ini masih kokoh berdiri dan menjadi tempat ibadah pemeluk Agama Katolik.

Museum Fatahillah – Jakarta

Bangunan Museum Fatahillah dulunya adalah Balai Kota Batavia atau juga yang sering disebut Stadhuis. Bangunan ini dibangun atas perintah Gubernur Jendral Johan Van Hoorn dalam kurun waktu 1707 hingga 1710. Uniknya bangunan Museum Fatahillah mempunyai kembaran di Kota Amsterdam, Belanda yakni Istana Dam. Dulunya memang Museum Fatahillah sengaja dibuat menyerupai Istana Dam.

Di tahun 1974 gedung ini dialih-fungsikan oleh Pemerintah Indonesia menjadi Museum Fatahillah. Bangunannya memiliki gaya arsitektur neo-klasik dengan tiga lantai. Di dalam museum yang terletak di Jalan Fatahillah No. 2 ini tersimpan Patung Hermes dan Meriam Si Jagur yang sangat terkenal.

Gedung Bank Indonesia – Cirebon

Jika Anda pernah menemukan gambar bangunan tua di uang kertas pecahan Rp. 500,- maka bangunan tersebut tak lain adalah Gedung Bank Indonesia di Cirebon. Pada masa penajajahan Belanda, gedung yang dibuka pada tanggal 31 Juli 1866 ini difungsikan sebagai Kantor Cabang ke-5 dari De Javasche Bank (DJB).

Gedung ini awalnya dinamakan Agentschap van De Javasche Bank te Cheribon dan diarsiteki oleh F.D. Cuypers dan Hulswit. Gedung yang terletak di Jalan Yos Sudarso No. 5 Cirebon ini memiliki keunikan yang khas, yakni hanya memiliki satu menara saja tak seperti lazimnya gedung lain yang memiliki dua menara.

Gedung Balaikota Lama – Medan

Gedung Balaikota Lama masih berdiri kokoh hingga sekarang meski sudah berusia tua. Adalah seorang Hulswit yang mengarsiteki gedung ini di tahun 1906. Gedung ini memiliki desain seperti ciri khas bangunan Belanda lainnya yang sangat kental akan gaya arsitektur Eropa.

Dalam rentang tahun 1945 hingga 1990, gedung ini digunakan sebagai Balaikota Medan. Kini bangunan yang berlokasi di Jalan Balai Kota No. 1 Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan ini telah menjadi bagian dari Hotel Aston dan difungsikan sebagai restoran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *