03/07/2020
Breaking News

Mengenal Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia

Mengenal Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia

Mengenal Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia

Mengenal Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Dunia – Jangan heran jika melihat semua tubuh pria dan wanita Mentawai bergambarkan tato. Bagi mereka, tato itu seperti pakaian. Bahkan, keberadaannya adalah identitas.

Seni rajah yang mereka gunakan sama sekali jauh dari kata modern. Tinta yang digunakan berasal dari arang kayu atau bekas pembakaran yang dihaluskan, lalu dicampur dengan perasan tebu.

Proses selanjutnya, duri atau jarum yang sudah dicelupkan pada tinta tadi ditusukkan pada lapisan kulit, membentuk rupa-rupa motif.

Inilah tato asal Mentawai. Mereka merajah tubuhnya mulai dari mata kaki, jari, dada rusuk, leher, sampai pipi.

Menurut peneliti tato Ady Rosa, tato Mentawai merupakan identitas yang membedakan antara klan satu dengan lainnya. Orang-orang Mentawai juga percaya, tato adalah pancaran roh dari kehidupan mereka.

Tentu, ragam motif yang dilukis pada tubuh tak sembarang. Tato di Mentawai disebut sebagai titi atau tiktik, yaitu identitas.

Nah, selayaknya identitas, pada tato yang tertera tergambar mulai dari tanah asal, status sosial, sampai seberapa hebat seorang pemburu.

Tertua di dunia

Meskipun tato telah menjadi identitas, orang-orang Mentawai yang masih menggunakan tato pada sekujur tubuhnya sudah jarang ditemui.

Kalaupun ada, kebanyakan masyarakat yang berasal dari wilayah dimana orang-orangnya masih berpegang teguh pada adat istiadat.

Seperti masyarakat yang tinggal di pedalaman Siberut. Di sana, masyarakat masih memegang ajaran yang disebut Arat Sabulungan.

Mereka mengimani bahwa tato tak boleh lepas dari kehidupan orang mentawai.

“Saya ini berasal dari dusun Butui, tatonya seperti ini,” ucap Aman Koddai yang baru beberapa tahun dinobatkan jadi sikerei.

Sikerei merupakan sebutan untuk dukun, penjinak bisa, pimpinan uma, atau rumah adat di Pedalaman Siberut yang bersifat komunal dan besar.

Tato milik Aman Koddai bergambar semburat cahaya matahari. Ada pula garis-garis berwarna biru tua yang menempel di jangatnya.

Jenis gambar tato yang menempel di tubuh Aman Koddai, dipercaya oleh sejumlah antropolog sebagai tato tertua di dunia. Bahkan, motif itu dipercaya mendahului tato Mesir yang sudah ada pada tahun 1300 Sebelum Masehi (SM). Pantas kalau seni ini kemudian dianggap sebagai kebudayaan Indonesia yang layak dijadikan salah satu pesona Indonesia.

Dilansir media, merujuk pada penelitian Ady Rosa dengan melihat catatan Encyclopaedia Britannica, Suku Mentawai sudah merajah badan mereka sejak kedatangannya ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam, yaitu dalam perkiraan 1500 SM – 500 SM.

Konon, orang Mentawai merupakan suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunani, kemudian berbaur dengan budaya dongson di Vietnam.

Mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru hingga sampai di pantai Barat Sumatera. Penelitian juga menunjukkan adanya kemiripan tato Mentawai dengan tato hasil seni budaya dongson di Vietnam.

Selain itu, motif tato yang sama ditemukan juga pada sejumlah suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru

Merunut maknanya, tato Mentawai merupakan keseimbangan hidup, sebagaimana yang mereka yakini bahwa semua yang hidup di jagad raya mempunyai roh.

Maka tak heran, bentuk tumbuhan dan hewan diabadikan pada tubuh mereka. Seorang pemburu, akan merajah tubuhnya dengan gambar hasil buruan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *